Friday, September 6, 2013

Sejarah Kerajaan Holing dan Melayu



PENDAHULUAN
Dalam laporan ini kami memberikan gambaran tentang permasalahan sejarah yaitu  kerajaan Holing dan melayu kami akan menjelaskan lokasi,sumber sejarah,kehidupan masyarakat yang meliputi bidang – bidang seperti bidang politik, bidang sosial, bidang ekonomi, bidang budaya serta peyebab runtuh nya kerajaan holing dan melayu.

















Kerajaan Holing (Kalingga)

            Kerajaan Holing disebut juga dengan Kerajaan Kalingga. Nama Kerajaan Holing adalah sebutan dari sumber Tiongkok. Kerajaan Holing terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
Description: C:\Users\RUSTANTOOO\Downloads\download.jpg
Gambar diatas yaitu letak Kerajaan Holing
Rakyat Holing menganut agama Budha. Hal itu dapat diketahui dari berita Cina yang ditulis I-Tshing, yang menjelaskan bahwa pada tahun 644 masehi Hwi-Ning seorang pendeta budha dari cina datang ke Holing dan menetap selama 3 tahun. Hwi-Ning menterjemahkan salah satu kitab suci agama Budha Hinayana yang berbahasa Sanksekerta ke dalam bahasa Cina. Dalam usahanya Hwi-Ning dibantu oleh seorang pendeta kerajaan Holing yang bernama Jnanabhadra.

Sumber sejarah :
1.      Catatan dari zaman Dinasti Tang (618 M – 906 M)
·         Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah timurnya terletak di
Pulau Bali dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
·         Ibukota Holing dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
·         Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan
singgasananya terbuat dari gading.
·         Penduduk Kerajaan Holing sudah pandai membuat minuman keras dari bunga
kelapa
·         Daerah Holing menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.


2.      Catatan I-Tsing
            Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Holing ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Cina. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.
Kehidupan Politiknya
Berdasarkan berita cina di sebutkan bahwa kerajaan holing diperintah oleh seorang raja putri yang bernama ratu sima. Pemerintahan ratu sima sangat kers namunadil dan bijaksana rakyat tunduk dan taat terhadap segala perintah ratu sima bahkantidak seorangmpun rakyat ataupun penjabat kerajaan yang berani melarang perintahnya. Hal ini membuktikan bahwa ratu sima sangat taat pada tatakrama aturankerajaan. Dengan pemerintahan yang keras berwibawa ratu sima yakin bahwakerajaannya akan menjadi kerajaan yang terdidik dan taat peraturan.*

Sistem dan Struktur social
Kehidupan sosial masyarakat kerajaan holing sudah teratur dengtan amat rapihal ini di sebabkan karena sistem pemeritahan yang keras dari ratu sima. Di sampingini juga sangat adil dan bijaksana dlam memutuskan suatu masalah. Rakyat sangatmenghormati dan menaati segala peraturan yang di buat oleh ratu sima.dan ratu simamempunyai sifat bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan rakyat sangatmenghormati dan menaati segala keputusan ratu sima. Ratu sima tidak pernahmemihak dalam sosialnya ia hannya membina dan sebagai penguasa kerajaan.

Kehidupan Ekonominnya
Perdagangan dan pelayaran karena letak kerajaan di semenanjung melayu. Jadi perdagangan sangat lah lancar dan terkendali selain ratu sima yang sangat lah disiplindan berwibawa perekonomiannya juga perjualan dengan lancar begitu juga dengan pelayarannya selain perdagangannya yang amat maju juga pelayaran disana sebagaialat transportasi yang mudah juga cepat.hal ini yang mendukung perkembanggannyaekonomi di kerjaan holing. Selain perekonomian yang maju dan trnsportasi yang medukung dan pusat pedangan dan pusat transsakai perdagangan merek ada dipasar itu adalah jantung.Perdagangan utama di kerajaan holing sejak pemimpin kerajaan ratu sima perdagangan , transportasi dan pemerintahan yang bagus itu menggaibatkan terjadinyahubungan perdagangan antar negara lain. Hal ini membuktikan bahwa perkembangankerajaan holing sangat amat berkembang dengan pesat.*

Kehidupan Sosial
Karena ratu sima yang sangat kers ia langsung sekaligus membanggun lembagamasyarakat yang sudah jelac fungsi dan tugasnya ratu sima mendirikan lembagamasyarakat ini untuk membantu dirinnya dalam mengatasi rakyatnya selain. Lembagayang sudah terbentuk ratu sima yang sudah memberlakukan sistem perundang-undangan . beliau telah membuat dan menysun perundang-undang yang sempurnadengn di bantu lembaga masyarakat hadirnya sistem perundang-undangnya tersebut berjalan dengan baik .*

Kebudayaan keagamaannya
Kebudayaan agamanya mayoritas masyarakat ratu sima. Memeluk agama budhakarena agama budha pertama kali masuk di indonesia jadi agama itulah yang di anutoleh ratu sima dan para masyarakatnya*

Kehidupan Budayanya
Mayoritas masyarakatnya memeluk agama budha begitu juga dengankebudayaanya banyak di pengaruhi oleh budaya india. Selain agamanya budhakebudayaanya yang lekat dan kental banyak tercampur dan terpengaruh dengan datdan kebudyaan orng indi hal ini juga berpengaruh pada ratu sima . ratu sima jugamenerima dengan baik kebudayaan india masuk di kerajaan holing
Kerajaan Holing dipimpin oleh Ratu Sima nan ayu, anggun, perwira, dan ketegasannya semerbak wangi yang terkenal adil dan bijaksana. Pemerintahan Ratu Sima sangat keras, itu yang menyebabkan kehidupan sosial teratur rapi. Ratu Sima mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. Ratu Sima menerapkan hukuman yang keras yaitu menghukum mati atau pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri.
Hingga pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemashuran rakyat kerajaan Holing yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia
meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar tak ada seorangpun
rakyat Kerajaan Holing yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu tidak sengaja tersentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Sima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya, dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka pangeran dijatuhi hukuman di potong kakinya.

Awal terbentuknya Kerajaan Holing:
Pada abad ke-8 ditemukan reruntuhan Candi Siwa (Hindu) di Samangambat yang lebih tua dari candi-candi di Portibi (Padang Lawas) yang dibangun pada abad ke-11. Dengan adanya candi ini besar kemungkinan orang Hindu datang ke Mandailing yang terletak di Swarna Dwipa untuk mencari emas. Dalam sejarah India, terdapat keterangan bahwa sekitar abad-1 Masehi pasokan emas ke India yang didatangi dari Asia Tenggara terhenti karena ada peperangan oleh karena itu kerajaan-kerajaan yang di India berusaha mendapatkan emas dari tempat lain.
Orang Hindu yang datang ke wilayah Mandailing adalah yang berasal dari Kerajaan Kalingga di India dan mereka disebut orang Holing yang masuk dari Singkuang dan mereka menemukan emas di wilayah Mandailing. Karena orang-orang Holing menetap di kawasan itu maka dinamakan Mandala Holing. Mandala artinya lingkungan. Mandala Holing berarti lingkungan tempat tinggal orang-orang Holing.
    Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya cukup banyak peninggalan Hindu/Buddha di wilayah Mandailing. Salah satunya yaitu tiang batu di Gunung Sorik Merapi yang bertarikh abad ke-13. Di wilayah Mandailing Godang terdapat lokasi persawahan yang bernama Saba Biara. Yang disebut biara adalah tempat orang Hindu-Buddha melakukan kegiatan keagamaan. Di jalan masuk ke lokasi itu terdapat 5 tempat adanya batu bata yang tersusun dalam lubang tanah yang dalamnya kurang lebih 2 meter. Kemungkinan batu bata yang tersusun itu adalah reruntuhan candi dari zaman dahulu.

Peninggalan-peniggalan Kerajaan Holing:
1.      Prasasti Tukmas
Prasati ini ditemukan di Desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah yang bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti ini berisi tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.
Description: C:\Users\RUSTANTOOO\Downloads\download (1).jpg
Prasasti Tukmas
2.      Candi
Perintah membangun candi diberikan oleh Ratu Sima dari Dinasti Sanjaya yang memerintah Kerajaan Kalingga. Tujuannya sebagai tempat pemujaan. Ratu Sima juga mendirikan beberapa candi lain di kawasan Dieng, seperti Candi Gatotkaca di bukit Pangonan, Candi Dwarawati di kaki Gunung Prahu, dan Candi Bima yang merupakan candi terbesar di Dieng. Candi-candi yang berada di luar kompleks tersebut pada umumnya terletak menyendiri dan dikelilingi pepohonan.
Description: C:\Users\RUSTANTOOO\Downloads\download (2).jpg
Candi Dwarawati
Description: C:\Users\RUSTANTOOO\Downloads\images.jpgDescription: C:\Users\RUSTANTOOO\Downloads\download (3).jpg
Candi Gatotkaca                                                                                   Candi Bima

Runtuhnya Kerajaan Holing

            Sepertinya kerajaan ini tidaklah hancur atau runtuh, tetapi setelah Ratu Sima meninggal di tahun 732 M, dan Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram. 
Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu.






Kerajaan Melayu
Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Cina ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.
Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum direbut oleh Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682.
Peta Kerajaan Melayu kuno
Penggunaan kata Melayu, telah dikenal sekitar tahun 100-150 seperti yang tersebut dalam buku Geographike Sintaxis karya Ptolemy yang menyebutkan maleu-kolon. Dan kemudian dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya dvipa yang bermaksud tanah yang dikelilingi air.

Lokasi Pusat Kerajaan :
Dari uraian I-tsing jelas sekali bahwa Kerajaan Melayu terletak di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Jadi Sriwijaya terletak di selatan atau tenggara Melayu. Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa negeri Melayu berlokasi di hulu sungai Batang Hari, sebab pada alas arca Amoghapasa yang ditemukan di Padangroco terdapat prasasti bertarikh 1208 Saka (1286) yang menyebutkan bahwa arca itu merupakan hadiah raja Kertanagara (Singhasari) kepada raja Melayu.

Candi Gumpung, kuil Buddha di Muara Jambi
Prof. Slamet Muljana berpendapat, istilah Malayu berasal dari kata Malaya yang dalam bahasa Sansekerta bermakna “bukit”. Nama sebuah kerajaan biasanya merujuk pada nama ibu kotanya. Oleh karena itu, ia tidak setuju apabila istana Malayu terletak di Kota Jambi, karena daerah itu merupakan dataran rendah. Menurutnya, pelabuhan Malayu memang terletak di Kota Jambi, tetapi istananya terletak di pedalaman yang tanahnya agak tinggi. Dan menurut prasasti Tanjore yang dikeluarkan oleh Rajendra Chola I bertarikh 1030, menyebutkan bahwa ibu kota kerajaan Malayu dilindungi oleh benteng-benteng, dan terletak di atas bukit.
Dari keterangan Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad
Al-Biruni, ahli geografi Persia, yang pernah mengunjungi Asia Tenggara tahun 1030 dan menulis catatan perjalanannya dalam Tahqiq ma li l-Hind (Fakta-fakta di Hindia) yang menyatakan bahwa ia mengunjungi suatu negeri yang terletak pada garis khatulistiwa pulau penghasil emas atau Golden Khersonese yakni pulau Sumatera.



Sumber Sejarah :

Sejarah melayu mancakup dimensi yang luas, dengan rentang masa yang panjang. Jika kerjaan kutai di anggap sebagai kerajaan tertua dalam sejarah, maka awal fase awal sejrah melayu adalah sekitar abad ke-4 atau ke-5M. Sejrah yang dimaksud disini adalah kejadian atau peninggalan sejarah yang, baik berupa manuskrip, prasasti, sejrah lisan maupun artefak. Dalam portal ini, sejarah melayu tersebut di bagi menjadi tiga kategori 1, sejarah tentang kerajaan 2, naskah dan 3, peninggalan sejarah di situs sejarah seperti, candi, masjid, istana maupun makam.

1. Kerajaan Melayu
Kerajaan Melayu yang dimaksud adalah kerajaan yang pernah beridiri di kawasan Melayu, baik di Indoensia maupun di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina dan Brunai. Kerajaan-kerajaan tersebut menggunakan dan mengembangkan kebudayaan Melayu di kawasan mereka. Ringkasnya, mereka menjadikan kebudayaan Melayu sebagai identitas budaya, ekonomi, sosial dan politik. Rentang masa yang cukup panjang, dan cakupan wilayah yang luas menjadikan kerajaan-kerajaan tersebut memiliki kekhasan tersendiri, walaupun mereka disatukan oleh satu rumpun kebudayaan yang sama, yaitu kebudayaan Melayu.
2. Naskah Sejarah
Naskah merupakan peninggalan tertulis yang menceritakan tentang hal-ihwal suatu masa tertentu di masa lalu. Naskah sejarah dalam yang dimaksud, dibagi dalam dua kategori yaitu prasasti dan manuskrip. Di antara prasasti yang telah di temukan adalah Batu Bersurat, Kedukaan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, Kota Kapur dan Karang Berahi, peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Sementara manuskrip yang ada, berkaitan dengan agama, adat, hikayat, silsilah, pengobatan dan sejarah itu sendiri, dan merupakan peninggalan tokoh-tokoh zaman dahulu, sebagian besar antara abad 16 hingga 18 Masehi.
3. Situs Sejarah
Situs sejarah merupakan daearah di mana ditemukan benda-benda purbakala. Benda-benda purbakala yang bersejarah tersebut diantaranya: istana-istana, makam, masjid dan candi.
SUMBER SEJARAH
Berasal dari sumber Cina karena tidak ditemukan prasasti. Musafir Cina I-Tsing (671-695 M) menyatakan bahwa pada abad ke-7 M secara politik Kerajaan Melayu dimasukkan ke dalam Kerajaan Sriwijaya.

Sumber berita berdirinya Kerajaan Melayu antara lain :
1.    Berasal dari kronik Dinasti Tang,
2.    Berasal dari kronik I-Tsing
3.    Dan berasal dari beberapa prasasti

Kehidupan Masyarakat

~    Kehidupan Ekonomi
Karena letaknya strategis di jalur pelayaran dan perdagangan, Sriwijaya adalah Kerajaan Maritim yang kegiatan ekonominya bertumpu dalam bidang perdagangan.

~    Kehidupan Budaya
Merupakan pusat agama Buddha di luar India.

~    Kehidupan sosial
Masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti.Di samping itu juga pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini tertera dalam prasasti Nalanda. Dari prasasti ini diketahui pula raja Sriwijaya yaitu Balaputra Dewa mempunyai hubungan erat dengan raja Dewa Paladewa (India). Raja ini memberi sebidang tanah untuk asrama pelajar dari Sriwijaya. Sebagai penganut agama yang taat maka raja Sriwijaya juga memperhatikan kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam Prasasti Talang Tuo) dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya sampai sekarang dapat diketahui melalui peninggalanpeninggalan suci seperti stupa, candi atau patung/arca Budha seperti ditemukan di Jambi, Muaratakus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang).Kebesaran dan kejayaan Sriwijaya akhirnya mengalami kemunduran dan keruntuhan akibat serangan dari kerajaan lain.

~    Kehidupan Politik
Dalam kehidupan politik. Raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga, dengan pusat kerajaannya ada 2 pendapat yaitu pendapat pertama yang menyebutkan pusat Sriwijaya di Palembang karena daerah tersebut banyak ditemukan prasasti Sriwijaya dan adanya sungai Musi yang strategis untuk perdagangan.
Sedangkan pendapat kedua letak Sriwijaya di Minangatamwan yaitu daerah pertemuan sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan yang diperkirakan daerah Binaga yaitu terletak di Jambi yang juga strategis untuk perdagangan. Dari dua pendapat tersebut, maka oleh ahli menyimpulkan bahwa pada mulanya Sriwijaya berpusat di Palembang. Kemudian dipindahkan ke Minangatamwan.
Untuk selanjutnya Sriwijaya mampu mengembangkan kerajaannya melalui keberhasilan politik ekspansi/perluasan wilayah ke daerah-daerah yang sangat penting artinya untuk perdagangan. Hal ini sesuai dengan prasasti yang ditemukan Lampung, Bangka, dan Ligor. Bahkan melalui benteng I-tshing bahwa Kedah di pulau Penang juga dikuasai Sriwijaya.
Dengan demikian Sriwijaya bukan lagi sebagai negara senusa atau satu pulau, tetapi sudah merupakan negara antar nusa karena penguasaannya atas beberapa pulau. Bahkan ada yang berpendapat Sriwijaya adalah negara kesatuan pertama. Karena kekuasaannya luas dan berperan sebagai negara besar di Asia Tenggara. Kehidupan EkonomiKerajaan Sriwijaya memiliki letak yang strategis di jalur pelayaran dan perdagangan Internasional Asia Tenggara. Dengan letak yang strategis tersebut maka Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan menjadi Pelabuhan Transito sehingga dapat menimbun barang dari dalam maupun luar.Dengan demikian kedudukan Sriwijaya dalam perdagangan internasional sangat baik. Hal ini juga didukung oleh pemerintahan raja yang cakap dan bijaksana seperti Balaputradewa. Pada masanya Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat yang mampu menjamin keamanan di jalur
-jalur pelayaran yang menuju Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di wilayah kekuasaan Sriwijaya tersebut.
Dengan adanya pedagang-pedagang dari luar yang singgah maka penghasilan Sriwijaya meningkat dengan pesat. Peningkatan diperoleh dari pembayaran upeti, pajak maupun keuntungan dari hasil perdagangan dengan demikian Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan yang besar dan makmur.Kehidupan sosial
nya

Penyebab Runtuh Nya Kerajaan Melayu

₪      Faktor Politis
Kedudukan kerajaan ini makin terdesak karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga memiliki kepentingan dalam bidang perdagangan, seperti Kerajaan Siam di sebelah utara yang menguasai daerah-daerah di Semenanjung Malaka termasuk Tanah Genting Kra. Dan Kerajaan Singasari di daerah timur yang dipimpin oleh Raja Kertanegara dengan mengirim ekspedisi ke arah barat (Ekspedisi Pamalayu) yang mengadakan pendudukan terhadap Kerajaan Melayu, Pahang, dan Kalimantan, sehingga mengakibatkan kedudukan Sriwijaya makin terdesak.
₪      Faktor Ekonomi                                                         
Aktivitas perdagangan berkurang karena daerah strategis perdagangan yng dikuasai Sriwijaya jatuh ke kekuasaan raja-raja di sekitarnya. Sehingga sejak akhir abad ke-13 Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan wilayahnya terbatas pada daerah Palembang. Kerajaan Sriwijaya yang kecil & lemah akhirnya dihancurkan oleh kerajaan Majapahit tahun 1377 M.

Kerajaan Sriwijaya
a.    Penyebab Kejayaan
1)    Letaknya yang strategis di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional. Hal ini mendorong Kerajaan Sriwiijaya untuk berkembang pesat sebagai negara maritim.
2)    Kemajuan kegiatan perdagangan antara India dan Cina yang melintasa Selat Malaka sehingga membawa keuntungan yang terbesar bagi Sriwijaya.
3)    Keruntuhan Kerajaan Funan di Vietnam Selatan akibat serangan Kerajaan Kamboja memberikan kesempatan bagi perkembangan Sriwijaya sebagai negara maritim (sarwajala), yang selama abad ke-6 dipegang oleh Kerajaan Funan.
b.    Penyebab Kemunduran
1)    Serangan Raja Dharmawangsa pada tahun 990 M. Ketika itu yang berkuasa di Sriwijaya adalah Sri Sudamani Warmadewa. Walaupun serangan ini tidak berhasil, tetapi telah melemahkan Sriwijaya.
2)    Serangan dari Kerajaan Colamandala yang diperintah oleh Raja Rajendracoladewa pada tahun 1023 dan 1030. Serangan ini ditujukan ke Semenanjung Malaka dan berhasil menawan raja Sriwijaya. Serangan ketiga dilakukan pada tahun 1068 M dilakukan oleh Wirarajendra, cucu Rajendracoladewa.
3)    Pengiriman ekspedisi Pamalayu atas perintah Raja Kertanegara, 1275-1292, yang diterima dengan baik oleh Raja Melayu (Jambi),, Mauliwarmadewa, semakin melemahkan kedudukan Sriwijaya.
4)    Kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga memiliki kepentingan dalam dunia perdagangan, seperti Kerajaan Siam di sebelah utara. Kerajaan Siam memperluas kekuasaanya ke arah selatan dengan menguasai daerah-daerah di Semenanjung Malaka.
5)    Jatuhnya Tanah Genting Kra ke dalam kekuasaan Kerajaan Siam yang mengakibatkan kegiatan pelayaran perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang.
6)    Dari daerah timur, Kerajaan Sriwijaya terdesak oleh perkembangan Kerajaan Singasari yang pada waktu itu diperintah oleh Raja Kertanegara.
7)    Para pedagang yang melakukan aktivitas perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang, karena daerah-daerah strategis yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya telah jatuh ke kekuasaan raja-raja sekitarnya.
8)    Serangan Kerajaan Majapahit dipimpin Adityawarman atas perintah Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1477 yang mengakibatkan Sriwijaya menjadi taklukan Majapahit.
9)    Muncul dan berkembangnya kerajaan Islam Samudera Pasai yang mengambil alih posisi Sriwijaya.

Penutup
Sekian dari makalah yang bisa kami sampaikan jika ada kekurangan mohon di maaf kan ass...wr...wb.






Daftar Pustaka :

Supriyadi. (1992). Materi Pokok Sejarah 2 Jakarta : Depdikbud.
_________________. (2005). Kerajaan , Yogyakarta : Buana.
Pustaka.
http://anggiezvir.diha.pusku.com/2013/09/sejarah-kerajaan-holing-dan-melayu.html       


No comments:

Post a Comment

Jika ingin berkomentar silahkan ikuti aturan di bawah ini :
1. Berkomentarlah dengan sopan.
2. Komentar tidak mengandung unsur SARA.

Boruto: Naruto Next Generations Episode 24 Subtitle Indonesia

Boruto: Naruto Next Generations Episode 24 Subtitle Indonesia Boruto Episode 24 Subtitle Indonesia Download Boruto Subtitle Indone...